Cerita Fajar Senja

dari fajar untuk senja

Cerita Jalur Solo-Semarang

1 Comment

Jalur Solo-Semarang adalah salah satu jalur gemuk atau bisa dibilang paling gemuk di wilayah perbisan yang ada di Jawa Tengah. Betapa tidak, jika kita sedang berdiri di pinggir jalan Solo-Semarang kita bakal menemui bus jurusan solo-semarang berlalu lalang paling tidak dalam kurun waktu 5-10 menit sekali waktu siang hari. Coba saja tengok jumlah armada dari Royal Safari, Taruna, Safari Lux yang menjadi “penguasa” jalur ini, bisa dibilang tak terhitung jari.

Mari mengabsen armada yang berwira-wiri di jalur Solo-Semarang. Taruna, Safari Lux, Raya, Mulyo Indah, Royal Safari, Sugeng Rahayu (Sumber Kencono dulu), Muncul, Rajawali, Ismo, Shantika, Eka, Mios, Sami Djaya, dll.

Salah satu keistimewaan di jalur ini untuk sekarang ini adalah armada-armada yang dijalankan hampir semua ber AC. Untuk armada yang ber Non AC sendiri menurut sepengamatanku, PO yang menjalankan armada ber Non AC ada Safari Lux, Mulyo Indah, Ismo (ekonomi), Mios, Sami Djaya. Itupun cuma beberapa saja kecuali Mios, Sami Djaya yang armadanya memang tidak ber AC.

Pertengahan bulan april tahun 2011 adalah untuk pertama kalinya aku mulai mengakrabi jalur Solo-Semarang ini. Waktu itu aku cuma sekedar ingin mencoba jalur ini. Masih ingat saat itu aku yang mau ke Surabaya dari Solo mengambil rute aneh Solo-Semarang-Surabaya dengan naik Patas Shantika, kemudian disambung naik Sinar Mandiri Mulia. Aku terkagum-kagum dengan armada-armada baru yang dijalankan oleh Shantika kala itu. Waktu itu aku naik armadanya yang berwarna ungu. Saat itu tarif patas shantika adalah Rp 20.000. Seiring waktu berjalan dan menjadikanku sering mengakrabi jalur ini, aku pun juga ikut “mencumbui” armada dari PO-PO lain seperti Taruna, Safari Lux, Raya, Muncul, Ismo, Rajawali, Sugeng Rahayu, Eka. Sementara untuk Mulyo Indah, Ismo ekonomi, Mios, Sami Djaya aku belum pernah untuk menaikinya.

Oya, aku belum menjelaskan untuk pengklasifikasian kelasnya. Untuk kelas Patas ada Muncul, Rajawali, Ismo, Shantika, Eka. Sementara untuk kelas Ekonomi ada Taruna, Safari Lux, Royal Safari, Raya, Mulyo Indah, Mios, Sami Djaya, Ismo Ekonomi. Nah kelas ekonomi di jalur ini armadanya hampir semuanya berkonfigurasi seat 2-2 ber AC, dan bertarif patas. Armada-armada itu antara lain dari Royal Safari, Taruna yang bertarif Rp20.000 untuk Solo-Semarang atau sebaliknya. Kemudian Rp 25.000 untuk armada berseat 2-2 dari Raya, Safari Lux, sama tarifnya dengan tarif patas yang dipunyai Muncul, Rajawali, Ismo, Shantika (kecuali Eka yang hanya Rp20.000). untuk Mulyo Indah seat 2-2 dan yang ekonomi seat 2-3 sendiri aku belum pernah menaikinya, sehingga aku tidak tahu detail tarifnya. Tentu tarif yang sebesar Rp 20.000 atau Rp 25.000 ini sangat jauh perbedaannya dengan armada ekonomi dari Sugeng Rahayu yang bertarif Rp 15.000 (memakai kartu langganan Rp13.000).

Sebelumnya, kira-kira juga sebulan lalu aku naik bis Safari Lux AC seat 2-2 dari Semarang ke Solo (armada tem pertama dari Safari Lux setelah armada Taruna, pemberangkatan sekitar jam 3.15 sore dari semarang, agak lupa, body legacy). Waktu itu ditarik tarif Rp 25.000. nah yang membuatku tidak nyaman adalah ada banyak penumpang yang berdiri dan juga ditarik tarif yang sama dengan penumpang yang duduk. Coba kita ambil posisi sebagai penumpang yang berdiri tadi, entu aneh kan kalau kita rasakan. Kita naik armada ekonomi tersebut dan ditarik tarif patas. Armada di belakangnya juga hampir dipastikan sama, sama berseat 2-2 AC dan bertarif patas juga, dan juga armada-armada berikutnya. Hal yang sama juga pernah aku lihat pada bis-bis lain seperti Royal Safari&Taruna seat 2-2 AC yang ada penumpang berdirinya.

Nah keluh kesah itu akhirnya memuncak juga buatku. Diawali dengan rencana kepergianku ke Semarang dari Solo rabu (16/4) kemarin. Ketika itu aku diburu waktu harus segera sampai Semarang sebelum maghrib, dan aku baru sampai Tirtonadi jam setengah 2 lewat sedikit. Aku tertinggal oleh armada Sugeng Rahayu W 7805 UY yang berangkat jam setengah 2 itu. Selain harus diburu waktu akupun juga mesti memikirkan ongkos perjalanan yang juga harus hemat atas kepentinganku ini. Sugeng rahayu telah berangkat, tinggal menyisakan Raya berseat 2-2 AC. Sementara di jalur patas kosong. Entah kenapa sekarang untuk armada patas Solo-Semarang sendiri seperti hidup segan mati tak mau, seperti kalah bersaing dengan armada “patas” ekonomi yang lain. Ya sudah mau tak mau aku mesti naik Raya ini, mau naik Sugeng Rahayu W 7102 UZ mesti nunggu sejam lagi dan dipastikan sampai semarang gak kebagian BRT Semarang (Bus Rapid Trans Semarang). Yang ada hanya armada seat 2-2 AC, aku emoh naik. Sebulan lalu aku sudah menaikinya, meskipun seatnya lebar seperti bis malamnya. Aku tetep keukeuh untuk naik yang seat 2-3 disamping karena harus berhemat, aku juga tahu di belakang Raya seat 2-2AC ini masih ada armada seat 2-3 AC. Menit demi menit aku menunggu dan akhirnya Raya seat 2-3 muncul di jalur pemberangkatan, aku mesti menunggu 5 armada Raya seat 2-2 yang interval keberangkatannya sekitar 5-8 menit antar armada. Akupun akhirnya naik armada Raya seat 2-3 ini dan ditarik tarif Rp 18.000 untuk perjalanan Solo-Semarang, dan untungnya sampai halte depan Unisula masih kebagian armada terakhir BRT Semarang. Urusan selesai, naik angkot dari depan Java Mall sampai Sukun jam setengah 8 kurang 10 menit. Ada 2 Ismo patas netem aku cuekin, demikian juga 1 mulyo indah seat 2-2 yang numpang lewat ambil penumpang dan langsung bablas. Akhirnya jam setengah 8 lewat 5 menit datang Sugeng Rahayu W 7102 UZ, naik dan sampai Solo jam setengah 10 lewat 10 menit.

Aku tidak tahu menahu apakah kondisi yang ada di jalur Solo-Semarang ini bisa dibilang illegal atau tidak, armada kelas ekonomi diberi konfigurasi seat 2-2 seperti patas, tapi tarif juga sama seperti patas dan memperbolehkan ada penumpang untuk berdiri. Kenapa kok aku tidak menahu? Ya karena aku tidak tahu berapa tarif batas atas dan tarif batas bawah yang baru setelah BBM naik, juni 1013 yang lalu. Mungkin ini gak jadi masalah atau sambatan jika bis berseat 2-2 itu tarifnya tidak melebihi tarif batas atas. Nah yang ada di lapangan adalah armada ekonomi seat 2-2 ini bertarif sama dengan armada patas asli. Karena hal inilah patas-patas asli di jalur Solo-Semarang ini malah seperti “kalah saing”. Armadanya tidak sebanyak armada ekonomi seat 2-2 AC, dan juga ditambah mereka (patas asli) telat untuk meremajakan armada mereka. Kita lihat saja Muncul untuk armada baru hanya menambahnya dengan armada discovery Hino AK, kadang legacy SR1 hino RK8 diterjunkan untuk jalan. Kemudian Rajawali juga sama discovery hino AK, dan all new legacy SR1 rebody hino RG. Untuk Ismo tidak ada armada baru, Shantika seperti hidup segan mati tak mau, entah kemana armada Tentrem Actor Hino AK hitamnya, dengar-dengar hanya meminjam armada saja dari PO tentrem, entah benar atau salah. Yang mentereng hanya PO Eka dengan armada royal travego dan gran tourismo Morodadi hino RK8.

Author: Adil Hani P

Wong asli Purworejo yang ngangsu kawruh di Solo

One thought on “Cerita Jalur Solo-Semarang

  1. sama usul anda dishub harusnya menegakan aturan dan tarif jangan hanya di kuasai 1-2 PO saja yang lain juga butuh makan dan punya anak istri. kita bukan negara kapitalis yang besar saja yang bisa makan
    Bravo Sumber Kencono/ Sugeng Rahayu, EKA, RAYA, ISMO, Rajawali dan Mulyo Indah, SAHABAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s