Cerita Fajar Senja

dari fajar untuk senja

Mie Ongklok Wonosobo

Leave a comment

Berawal dari keisenganku buat “nengok” ke kota tetangga tempat asalku, Wonosobo. Sudah lama aku gak main ke Wonosobo, terakhir kesana cuma numpang lewat saja waktu naik bus patas Nusantara dari Semarang ke Purwokerto setahun yang lalu. Berhubung jalan-jalan ke Wonosobo ya sekalian aja nyoba mie ongklok, makanan khas asli Wonosobo.

Mie ongklok, dari namanya sudah tentu makanan ini sajian utamanya adalah mie. Mie yang digunakan di mie ongklok sendiri adalah jenis mie kuning yang direbus, dan disajikan dengan campuran kol yang direbus, dan daun kucay, dan disiram dengan kuah yang agak kental, yang menurut sumber dari google yang aku baca yaitu kuahnya terbuat dari olahan pati kanji, dan juga ada campuran ebi. Mie ongklok sangat nikmat untuk dinikmati bila disajikan bersama sate sapi. Kenapa memakai nama “ongklok”? karena dalam merebus mie dan kol nya sambil “diongklok-ongklok” di panci perebusan, makanya dinamai dengan mie ongklok.

Setelah menempuh perjalanan selama dua jam dengan sepeda motor dari rumahku, di Purworejo dengan rute via Kutoarjo-Prembun-Wadaslintang-Sawangan, akhirnya sampai juga di Wonosobo. Memasuki kota Wonosobo dari arah Sawangan (atau dari arah Banjarnegara, Purwokerto) aku mulai mencari keberadaan tempat rumah makan mie ongklok yang terkenal di Wonosobo, yaitu mie ongklok pak muhadi. Akhirnya ketemu juga mie ongklok pak muhadi yang beralamatkan di jalan ahmad yani no 1 ini, letaknya ada di kanan jalan (dari arah Sawangan) sebelum perempatan lampu merah.

mie ongklok 2

Aku masuk ke rumah makan ini, pesan mie ongklok komplit beserta sate sapinya, tak memesan minum karena aku membawa minum sendiri. Tumben rumah makan ini sepi, padahal hari minggu, karena sebelumnya aku pernah nonton acaranya pak bondan winarno yang maknyus itu keadaannya sangat ramai. Masuk ke area meja makan cuma ada 2 rombongan pengunjung saja, 1 keluarga kecil bapak, ibu dan anak, dan 1 lagi rombongan sepasang kekasih dari luar kota sepertinya.

Tidak sampai 10 menit seporsi mie ongklok komplit beserta sate sapi datang. Segera saja aku makan karena sudah keburu ngiler (dengan berdoa dulu tentunya). Rasa kuahnya enak, tapi kok beda dengan mie ongklok yang pernah aku rasakan dulu sekitar 10 tahun lalu. Mie ongklok yang aku beli dari penjual mie ongklok gerobak keliling di purworejo dulu kuahnya lebih kental dari kuah mie ongklok pak muhadi ini. Mie yang aku rasakan dari mie ongklok pak muhadi ini aku rasa terlalu lama merebusnya sehingga mienya agak lembek, tidak kenyal lagi. Sate sapinya enak, paduan bumbu kacangnya pas, dan dagingnya juga dibakar dengan sempurna, matang, tidak alot.

mie ongklok

Setelah habis aku menyantap mie ongklok aku segera membayar, harganya ya agak lumayan mahal. Seporsi mie ongklok+sate sapi lengkap dihargai 20 ribu rupiah. Tapi ini tentunya lebih murah dari seporsi soto+teh anget seharga 25 ribu yang aku makan di parkiran monas Jakarta 2,5 tahun yang lalu. Haha

Segera ku tinggalkan rumah makan mie ongklok pak muhadi ini untuk jalan-jalan sebentar di kota Wonosobo, dan kemudian pulang ke Purworejo via Kertek-Sapuran-Maron.

Author: Adil Hani P

Wong asli Purworejo yang ngangsu kawruh di Solo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s