Cerita Fajar Senja

dari fajar untuk senja

Suatu Pagi di Ibukota

Leave a comment

Jakarta, beberapa waktu yang lalu

Jam 5 pagi aku sudah menginjakkan kaki di sebuah terminal bus antar kota antar propinsi ibukota. Pagi itu masih gelap, dan kehidupan di sekitar terminal itu juga belum nampak. Segera saja aku berjalan keluar terminal untuk menuju halte bus transjakarta, karena dalam terminal ini tidak ada halte, dan bus transjakarta sendiri tidak masuk terminal tersebut.

Tak sampai 10 menit aku sudah sampai di halte, aku berjalan ke loket untuk menebus tiket seharga dua ribu rupiah untuk pagi itu. Sambil menebus tiket ternyata dari kejauhan sorot lampu bus transjakarta sudah terlihat jelas, artinya bus akan segera merapat di halte. Orang yang antre di belakangku nampak terburu-buru menebus tiket dan sesegera mungkin masuk bus yang sudah mulai merapat di halte. Aku pun kemudian ikut terbawa arus, tadinya aku yang agak santai kemudian agak berjalan cepat juga saat akan masuk bus.

Masuk ke bus, dan beberapa kursi masih kosong. Ku lihat penumpang di dalamnya ada pekerja kantoran, dan juga siswa yang akan ke sekolah. Aku heran, saat itu waktu baru menunjukkan jam 5 lebih 15 menit, matahari juga belum muncul, dan orang-orang yang ada di dalam bus seolah-olah tak ingin tertinggal waktu. Benar saja, halte demi halte dilalui bus pun menjadi sesak penumpang.

Saat aku turun di sebuah halte untuk transit berganti bus masih tetap sama saja. Penumpang yang juga bertujuan sama denganku seolah-olah berlomba menjadi yang tercepat untuk cepat sampai ke halte transit untuk naik bus berikutnya. Saat itu waktu menunjukkan pukul 5.30.

Memang di halte transit itu penumpang tidak seberapa banyak, namun saat bus pertama datang, bus sudah penuh sesak dan hanya menaikkan segelintir orang saja. Aku lagi-lagi berpikir, kenapa sepagi ini bus sudah sesak penumpang, matahari pun juga belum sempurna muncul di ufuk timur.

Bus kedua datang, kondisi sama saja dengan bus pertama. Penuh sesak. Namun aku tetap masuk ke bus bersama penumpang yang lain. Setelah sampai di dalam bus yang penuh sesak itu, aku tersadar. Aku salah jurusan. Dan aku juga berpikir kenapa aku sampai bisa ikut terbawa arus penumpang lain yang terburu-buru tanpa menghiraukan bus yang datang dan aku masuki itu ternyata salah jurusan.

Waktu menunjukkan jam 6 lebih 30 menit aku tiba di halte transit berikutnya untuk berganti bus yang menjadi tujuan utamaku. Aku mulai tersadar, aku sekarang berada di ibukota. Dimana di kota ini waktu sangat dihargai. Aku juga sadar ternyata butuh waktu sejam lebih dari aku mulai naik di halte dekat terminal sampai aku tiba di halte transit terakhir ini, padahal jarak yang menghubungkan kedua halte dari aku pertama naik sampai halte transit terakhir tidak begitu jauh. Aku juga teringat kalau beberapa tahun lalu aku juga pernah merasakan macet di depan suatu pasar di ibukota selama 2 jam dalam jarak yang tak sampai 1 km.

Aku jadi mulai mengerti, ternyata waktu sangat dihargai di ibukota ini. Di kota asal ku? Entah lah buat diriku, dan juga buat orang lain.

Author: Adil Hani P

Wong asli Purworejo yang ngangsu kawruh di Solo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s