Cerita Fajar Senja

dari fajar untuk senja

Fenomena Bus Sumber Grup

1 Comment

Bus Sumber Grup yang terdiri dari Sumber Kencono, Sumber Selamat dan Sugeng Rahayu saat ini bisa dibilang sebagai “raja jalanan” di jalur Surabaya-Madiun-Solo-Jogja. Armadanya yang berjumlah ratusan tentunya akan menjamin terangkutnya para calon penumpang di sepanjang jalur Surabaya-Madiun-Solo-Jogja. Selain itu bus ini juga dilengkapi dengan pelayanan yang cukup mumpuni seperti berpendingin udara (AC), tabung pemadam kebakaran, kursi yang ergonomis dan nyaman, serta tarifnya yang lebih murah dibanding bus kompetitor yang lain.

Bus Sumber Grup ini mempunyai tiga trayek utama yaitu Surabaya-Madiun-Solo-Jogja, Surabaya-Madiun-Solo-Semarang, dan Surabaya-Madiun-Solo-Wonogiri. Bus Sumber Grup ini trayeknya juga bersinggungan dengan bus bertrayek Surabaya-Kertosono-Trenggalek, Surabaya-Madiun-Ponorogo, Surabaya-Madiun-Pacitan, Surabaya-Solo-Jogja-Purwokerto-Bandung, Solo-Semarang, Solo-Jogja, serta Solo-Wonogiri.

Namun kadang di saat-saat tertentu bahkan armada-armada yang dikeluarkan untuk mengangkut para calon penumpang tak mampu untuk menampungnya. Bisa dilihat saat kondisi jam pulang kerja dan akhir pekan di Terminal Purabaya, Surabaya. Para penumpang memadati jalur pemberangkatan bus jurusan Jogja hanya untuk naik bus Sumber Grup ini. Bus yang terkenal dengan kecepatan dan ketepatan waktunya ini diandalkan oleh para penglaju kerja untuk sarana akomodasi mereka dari tempat tinggal ke tempat kerja dan juga oleh penumpang jarak jauh. Padahal kebanyakan penglaju kerja ini kebanyakan berasal dari daerah sekitar Surabaya seperti Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Madiun. Sebenarnya mereka bisa menggunakan jasa bus lain yang bersinggungan trayek dengan bus Sumber Grup ini. Tapi karena pelayanannya yang memuaskan membuat penumpang jarak dekat itu lebih memilih Sumber Grup sebagai jasa tunggangannya.

Berikut ini adalah keunggulan-keunggulan bus Sumber Grup (dikutip dari sini)

1. Trayeknya melewati belasan kota, pusat kegiatan masyarakat

Jalur trayek yang dilayani oleh SK adalah termasuk jalur menengah, dengan tiga trayek :
Trayek terbanyak yakni : Surabaya – Sidoarjo – Mojokerto – Jombang – Nganjuk – Madiun – Maospati (Magetan) – Ngawi – Sragen – Palur (Karanganyar) – Solo – Klaten – Yogyakarta;
Surabaya – Solo – Sukoharjo – Wonogiri;
Surabaya – Solo – Boyolali – Salatiga – Semarang;

Trayek Surabaya – Yogyakarta sebagai trayek utama, untuk kelas ekonomi dilayani bersama oleh dua perusahaan, yakni Sumber Kencono / Sumber Selamat dan Mira. Dengan wilayah yang dilalui mencapai belasan kabupaten / kota, otomatis modus tranportasi ini bisa menjadi andalan masyarakat yang bepergian menggunakan angkutan umum di jalur ini. Apalagi tujuan akhirnya adalah kota besar, yakni Surabaya dan Yogyakarta dengan tujuan antara Solo dan Madiun. Surabaya dengan pusat ekonomi, pendidikan, dan kesehatan di wilayah timur, Yogyakarta sebagai pusat budaya dan pendidikan di wilayah tengah, Solo sebagai kekuatan ekonomi, budaya dan pendidikan, serta Madiun sebagai kota menengah yang menjadi titik hubung dengan kota-kota di sekitarnya.

Di trayek ini juga terdapat beberapa irisan dengan trayek bus besar yang lain, di antaranya : Surabaya – Kediri – Tulungagung – Trenggalek, Surabaya – Madiun – Ponorogo – Pacitan, Surabaya – Madiun – Magetan, Sragen – Solo, Solo – Yogyakarta, serta trayek panjang Surabaya – Yogyakarta – Cilacap.

Sementara trayek ke arah Wonogiri juga beririsan dengan bus Solo – Wonogiri dan Solo – Wonogiri – Pacitan. Adapun ke arah Semarang juga beririsan dengan bus jurusan Solo – Semarang.

Di wilayah trayek Jawa Tengah khususnya, bus dari Jawa Timur dibatasi jam operasi dan daerah pengambilan penumpangnya. Ini demi menciptakan sebuah persaingan yang fair dengan bus trayek pendek yang beririsan. Beberapa kali di penghujung tahun 90-an / awal 2000, terjadi kericuhan di wilayah Jawa Tengah karena belum ditaatinya kode etik ini. Akibatnya, beberapa bus pendatang dirusak. Untunglah ini tidak berlangsung lama setelah disepakati solusinya.

2. Jumlah Armada Banyak

Permintaan pasar akan transportasi yang melalui kota-kota tersebut yang sangat besar, memerlukan jumlah armada yang mencukupi, dan beroperasi 24 jam. Grup usaha Sumber Kencono mengoperasikan armada sejumlah 230 unit. Jauh lebih banyak dibandingkan rivalnya, PO Mira yang berada di kisaran seratus bawah.

Dengan jumlah armada sebanyak itu dan beroperasi 24 jam, bila dihitung rata-rata, maka tiap 6 menit 16 detik lewat satu buah bus Sumber Kencono. Atau bila dikombinasi dengan PO Mira yang 100-an unit, tiap 4 menit 22 detik lewat satu bus Sumber Kencono atau Mira. Ini bisa dibandingkan dengan keberadaan Busway yang di koridor paling ramaipun bisa molor hingga setengah jam lebih setiap harinya.

3. Tarif Transparan dan Adil

Penggunaan karcis sebagai bukti pembayaran penumpang memang sudah lama digunakan dalam transportasi bus. Namun, sekitar 15 tahun terakhir sistem itu mulai menghilang dengan munculnya sistem setoran. Angkutan bus besar di Jawa Timur, hingga kini mayoritas masih mempertahankan sistem itu karena pendapatan yang didapatkan oleh pengusaha berdasarkan karcis yang dijual. Tentunya ini harus didukung sistem kontrol yang ketat. Sumber Kencono, sebagai salah satu operator angkutan juga menggunakan sistem ini.

Penumpang, dalam hal pembayaran tarif hanya membayar sesuai jarak dari mana berangkat dan di mana akan turun. Harganyapun sudah dipatok resmi oleh perusahaan dan diawasi ketat batas atas-bawahnya oleh Departemen Perhubungan. Sebagai contoh, bila kita naik dari Surabaya dan turun di Perak Jombang, tarifnya berbeda dengan bila kita turun di Kertosono Nganjuk, meskipun hanya terpaut jarak sekitar 10 km saja. Beda tarif Rp. 500 pun akan dikembalikan oleh Kondektur.

Ini berbeda halnya dengan bus di wilayah propinsi lain yang gradasi tarifnya antara kota yang berdekatan sangat jauh berbeda dan jarang menggunakan karcis serta terkesan tawar-menawar, mahal, bahkan tidak fair.

Untuk menjaga loyalitas penumpang, armada ini juga mengeluarkan sistem Kartu Langganan yang biasa disebut KL yang bila ditunjukkan sebelum membayar mendapatkan potongan di kisaran Rp. 2 ribu. Anggota TNI dan Polri yang naik dan berseragam juga mendapatkan potongan tarif istimewa sebesar 50 %.

4. Ketepatan Waktu menjadi Andalan

Sebenarnya ini adalah faktor utama mengapa masyarakat masih percaya menggunakan armada ini. Meskipun sebenarnya ukuran waktu adalah sesuatu yang relatif, apalagi mengingat kondisi jalan raya yang terkadang tidak bisa diduga, serta banyaknya faktor rintangan yang dilalui. Namun, Sumber Kencono mencoba memberikan solusi pelayanan meminimalkan waktu tempuh dengan mengoptimalkan kondisi jalan dan lalu-lintas yang ada. Contohnya, adalah meminimalkan parkir ngetem yang tidak perlu. Rute Surabaya – Yogyakarta, bus hanya berhenti di terminal Madiun selama maksimal 20 menit untuk memberi kesempatan awak bus makan minum secukupnya. Selain itu relatif tidak berhenti lama. Terkadang ada bus yang berhenti di terminal Nganjuk, dan bila sudah berhenti di sini, biasanya di Madiun tidak berhenti lama. Tidak digunakannya sistem setoran juga meminimalkan waktu berhenti ngetem ini.

Bus lain yang beririsan dengan trayek Sumber Kencono tidak seketat ini jadwalnya. Contohnya untuk rute Surabaya – Kediri – Trenggalek, paman saya yang berdomisili di Surabaya dan mengajar di Trenggalek selalu menggunakan Sumber Kencono dan pindah bus di Kertosono daripada menggunakan bus langsung Surabaya – Trenggalek karena lebih cepat. Bahkan, secara umum masyarakat masih beranggapan kecepatan menjadi diutamakan dibandingkan dengan kenyamanan khususnya bila mengejar waktu. “Sing penting cepet tekan.” Begitu kira-kira yang ada di benak masyarakat.

Optimalisasi waktu yang lainnya, adalah bus hanya mengisi bahan bakar ketika penumpang sudah diturunkan di terminal. Bila bus sedang berisi, betapa banyak waktu penumpang yang ikut tersita pada saat mengisi bahan bakar ini.

5. Armada Sangat Prima

Usia bus yang dioperasikan Sumber Kencono semakin ke sini semakin muda. Tentu semua mafhum bila semakin berusia, kehandalan sebuah kendaraan menurun serta memerlukan biaya perawatan yang tidak sedikit. Dari beberapa kali perbincangan dengan pengurus maupun kru SK, diperoleh info bahwa maksimal usia bis adalah 5 tahun. Dan secara bertahap diperbarui dan dimodernkan armadanya.

Dalam periode 2008 hingga sekarang, sudah puluhan kali (mendekati seratusan) saya naik bus Sumber Kencono. Selama itu pula, tidak pernah sekalipun saya mengalami bus dalam kondisi rusak mogok. Bahkan, hanya untuk sekedar menambah tekanan angin ban saja, saya tidak pernah mengalaminya. Hanya pernah sekali mengalami kerusakan knalpot, itupun masih bisa meneruskan perjalanan hingga ke garasi dengan keterlambatan hanya sekitar setengah jam saja.

6. Terbuka Menerima Masukan

Sepanjang saya keluyuran naik bus umum (dari tahun 1993 hingga sekarang), di kolong langit Jawa ini hanya ada satu perusahaan yang konsisten di seluruh armadanya secara terbuka dan terang-terangan menuliskan permintaan kepada penumpang yang berbunyi:

“BILA SOPIR NGEBUT / UGAL-UGALAN,

MOHON HUBUNGI : 031-8973558, 8973559 ATAU SMS 081 5510 4883”

Dan di samping tulisan besar-besar itu, juga terdapat nomor polisi bus yang bersangkutan. Tulisan ini berada di atas dashboard depan atau di langit-langit di atas kaca depan. Tulisan yang sama juga terdapat di karcis yang dibagikan kepada tiap penumpang. Saya juga beberapa kali memberikan masukan lewat SMS ke nomor kontak tersebut. Dan bagusnya, selalu ditanggapi tidak lebih dari 24 jam dengan ucapan terima kasih atas masukannya.

Tentunya banyak pihak yang sudah memberikan masukan kepada PO Sumber Kencono, termasuk Departemen & Dinas Perhubungan, Kepolisian, serta instansi terkait agar berubah lebih baik lagi dan sudah dilaksanakan oleh pengelola.

7. Fasilitas Semakin Bagus

Peremajaan armada Sumber Kencono dilakukan dengan meningkatkan kualitasnya. Yang paling terlihat adalah adanya pendingin udara (Air Conditioner) di mayoritas bus. Hingga pertengahan 2009, sebenarnya jumlah armada AC Sumber Kencono masih kalah dibandingkan PO Mira. Tetapi perlahan tapi pasti, kini mayoritas armada sudah menggunakan AC. Hanya satu dua yang terlihat tanpa AC. Penumpang juga dimanjakan dengan TV LCD 21 inch lengkap dengan sound systemnya yang sering memutar lagu dangdut “Asolole”. Benar-benar merakyat. Jok kursinya juga mulus, terbuat dari kulit sintetis yang mudah dibersihkan serta terawat rapi sehingga tak ada lagi cerita jok bau apek dan kumal.

Kelengkapan keselamatan standard seperti pintu darurat di sebelah kanan belakang, palu pemecah kaca, alat pemadam api ringan (APAR) juga sudah tersedia di armada Sumber Kencono. Tidak kurang juga alat pemantau posisi dan kecepatan berupa GPS (Global Positioning System) juga sudah dipasang pada mayoritas armada untuk memonitor pergerakan dan kesemuanya dapat berimplikasi pada tindakan sanksi apabila terdapat pelanggaran.

8. Identitas Armada dan Kru Jelas

Seluruh bus Sumber Kencono dan Sumber Selamat memiliki identifikasi yang jelas, termasuk warna cat yang seragam hingga nomor polisinya juga tercantum jelas. Bila malam hari, keberadaan bus ini dari jauh juga mudah dikenali, yakni dari billboard putih berlampu bertuliskan Sumber Kencono di atas kaca depan sehingga calon penumpang lebih mudah untuk mengenalinya.

Seragam kru bus juga demikian. Bila hingga dua tahun lalu masih menggunakan seragam khas Jawa Timur warna merah oranye, kini semua awak sudah mengenakan seragam khas warna Biru. Tidak hanya siang hari, malam haripun mereka disiplin menggunakannya. Termasuk petugas lapangan yang ada di terminal.

Di tengah maraknya kejahatan di atas kendaraan umum yang dilakukan oknum awak angkutan, disiplin ala Sumber Kencono ini sangat layak diteladani karena perusahaan yang lain tidak sedisiplin ini.

—–

Namun dibalik cepatnya, bus ini dahulu kerap dilanda musibah kecelakaan di jalan serta muncul bahwa bus sumber Grup ini adalah raja jalanan dalam arti sebenarnya yang tidak mengindahkan peraturan di jalan dan mau menang sendiri di jalan. Bus ini juga pernah dibakar massa di Ngawi saat masa arus mudik-balik lebaran tahun 2010 akibat menabrak pengguna sepeda motor. Selain itu juga pernah mengalami kecelakaan hebat bertabrakan dengan mobil travel di jalan by pass Mojokerto beberapa waktu silam. Karena hal itu yang juga menyebabkan masyarakat banyak yang antipati terhadap bus ini.

Dari obrolan para sopir bus Sumber Grup ini didapat keterangan bahwa mereka mengemudikan bus ini karena dikejar waktu. Dikejar waktu parkir saat tiba di tujuan agar mereka tidak mendapat klaim dari perusahaan. Klaim disini berarti denda yang diberikan oleh perusahaan karena pelanggaran-pelanggaran selama di lapangan. Selain itu jatah hari kerja mereka juga sangat padat dan hanya beristirahat kurang lebih 6 jam sehari dan mereka kembali harus membawa bus yang mereka kemudikan di jalan. Kondisi itu pula lah yang menyebabkan bus ini kerap mengalami musibah kecelakaan.

Akibatnya sampai Gubernur Jawa Timur, “Pakdhe Karwo” juga ikut bersuara agar bus Sumber Grup ini ditutup trayeknya. Beberapa hari setelah peristiwa itu, Sumber Grup tidak menjalankan armada-armada busnya. Dan bisa ditebak, penumpang di Terminal Purabaya terlantar tidak terangkut.

Berbagai macam cara juga sudah ditempuh oleh bus Sumber Grup ini untuk mengurangi angka kecelakaan. Bahkan sampai mengganti nama bus yang dulunya adalah Sumber Kencono dengan Sumber Selamat dan Sugeng Rahayu. Sumber Kencono sendiri di mata masyarakat adalah Sumber Bencana yang bermula dari plesetan bus Sumber Kencono, Sumber Bencono.

Kini dengan segala daya dan upaya yang dilakukan pihak manajemen perusahaan, bus Sumber Grup sudah jarang dan bahkan hampir tak terdengar ada kabar-kabur bus Sumber Grup mengalami kecelakaan.

Author: Adil Hani P

Wong asli Purworejo yang ngangsu kawruh di Solo

One thought on “Fenomena Bus Sumber Grup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s