Cerita Fajar Senja

dari fajar untuk senja

Surakarta, 9 september 2012

Leave a comment

Jam di telepon genggamku menunjukkan waktu jam setengah 8 malam lebih 10 menit. Jam dimana aku berdiri di salah satu sudut pertigaan dekat pusat perbelanjaan dimana merupakan pintu masuk menuju Kota Surakarta ini. Ku berhenti sebentar sekedar untuk menarik nafas dalam-dalam akibat 30 menit lebih tiada henti mengkayuh laju sepeda pinjaman teman kos ku. Tak lupa sambil mengamati laju arus lalu lintas kendaraan besar dan kecil yang hilir mudik di depan pandangan mata.

Ku kayuh lagi sepeda biru itu menuju arah timur dan sempat tertahan dengan adanya kereta kuning yang minta lewat. Ku terkulik dengan memori-memori di hari ini. Ku membayangkan dimana aku sudah berada di puncak gunung tertinggi di dunia, tapi tiba-tiba aku terjun ke jurang saat akan hampir mencapai puncaknya.

Aku memang terlalu banyak bermimpi dan berkhayal. Karena bayangan-bayangan yang muncul itu yang kemudian hampir membuat aku celaka dan aku nyaris menjadi penghuni IGD yang ke empat kalinya sepanjang hidupku.Tapi aku seolah tak meresponnya dan kutinggalkan saja pengguna jalan lain itu yang hampir membuatku jadi penghuni IGD.

Sempat terhipnotis sebentar dengan panggung band reggae, ku kayuh lagi laju sepedaku dan tak sampai 10 menit aku sudah duduk di bangku wedangan. Dengan dua gelas teh hangat siap diminum sebagai pelepas dahaga selama dua jam aku duduk di wedangan.

Author: Adil Hani P

Wong asli Purworejo yang ngangsu kawruh di Solo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s